Selasa, 09 Juni 2009

Kebenaran hanya milik Allah semata

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Segala puji bagi Allah tuhan seluruh makhluk, penguasa semesta alam dan segala isinya.
Sholawat dan salam tiada terputus bagi Muhammad, rasul dan kekasihNya. Semoga kebaikan mengiringi keluarga, para sahabat dan seluruh umatnya.

Sebagai seorang muslim yang jauh dari kesempurnaan, saya selalu berusaha untuk menyempurnakan pemahaman saya pada 'dien' yang 'haq' ini dengan tarus melalukan pembelajaran. Membaca dan bertanya, melihat dan mendengar. Menyimak dan menghayati, meresapi dan melibatkan diri. Semoga Allah sang maha lembut memberikan kemudahan bagi kita semua dalam menerima hikmahNya. Amiien.

Sejauh ini saya hanya memberanikan diri untuk belajar dan mengkaji dalam berusaha untuk meraih kebenaran, menilai, namun tidak mengambil kesimpulan.
Pada suatu waktu, ada kalanya saya tiba pada sebuah opini atau pendapat. Namun sebagai manusia yang ilmunya tidak akan mampu meliputi seluruh keluasan, ketinggian, keagungan dan kesempurnaan ilmuNya, maka kesimpulan atau pembuktian akan "Kebenaran" kami serahkan kembali kepada Allah sang maha mengetahui.

Semoga Allah meridhai niat dan usaha saya ini sebagai kebaikan, semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan kebodohan saya. Dan semoga Allah menunjukkan jalan yang lurus kepada kita semua. Segala yang mampu kita lakukan adalah ikhlas meniatkan diri dalam kebaikan, dan terus berusaha.

Sebagai seorang muslim yang baru memulai mendalami agama ini, saya berangkat dengan keyakinan teguh bahwa Allah swt menurunkan Islam melalui Rasulullah saw sebagai penyempurna nikmatNya, pembeda antara yang haq dan yang bathil serta penunjuk kepada keselamatan dunia dan akhirat.

Setelah beberapa waktu melihat, mendengar dan kemudian merasakan, semakin terbukalah kemuliaan dan keagungan Islam sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan ini. Melalui agama ini, Allah yang maha agung memberikan sebuah 'tujuan' bagi seluruh umat manusia. Segala puji bagiNya yang menolong umat manusia dari kekosongan / ketiadaan tujuan. Andai manusia hidup tanpa memiliki tujuan, maka kebinasaan menunggu diujungnya.

Namun saya pribadi juga menyaksikan bahwa nyata terdapat perbedaan didalam umat Islam itu sendiri. Perbedaan dalam banyak hal, perkara-perkara mulai dari hal aqidah, ushul sampai ke furu' yang mendetail. Perbedaan pandangan antar sesama umat muslim sudah ada sejak Islam itu sendiri diturunkan melalui Rasulullah saw. Namun ketika Rasulullah saw masih hidup, maka umat memiliki tempat merujuk pada diri Rasulullah saw sebagai 'duta' Allah swt di dunia sehingga perbedaan pendapat dapat segera diluruskan melalui ketetapan yang rasulullah berikan. Segala puji bagi Allah..

Setelah Rasulullah saw wafat, maka tiada lagi figur atau pengambil ketetapan yang dijamin kebenarannya bagi umat ini. Saat itu pula umat islam mulai memiliki perbedaan dalam pandangan yang meliputi bermacam-macam topik. Pada saat itu untuk mengambil sebuah ketetapan mengenai suatu hal, maka para sahabat sebagai orang-orang yang mengenal pribadi Rasulullah saw menjadi tempat bertanya umat Islam secara umum. Para sahabat kemudian merujuk kepada Al-Qur'an dan perkataan-perkataan Rasulullah saw semasa hidupnya. Sebagai manusia yang diciptakan berbeda-beda, masing-masing sahabat pun tidak terlepas dari perbedaan dalam memandang maksud yang dituju oleh Al-Qur'an maupun hadits. Dan tidak dapat dihindari, lahirlah perbedaan-perbedaan pendangan dalam umat islam.

Dalam perkembangan masa kekhalifahan selepas wafatnya Rasulullah saw, semakin tampaklah adanya perbedaan-perbedaan pandangan diantara para sahabat. Seiring waktu ini pula, Islam mulai menyebar ke berbagai penjuru. Para sahabat banyak yang diutus ke daerah-daerah yang baru dimasuki Islam berposisi sebagai nara sumber mengenai hukum Islam didaerah-daerah itu. Dan para sahabat dengan ilmunya masing-masing menyebarkan ajaran Rasulullah saw ditempat yang berbeda-beda. Sungguh mulia usaha mereka, sehingga Islam dapat meluas ke berbagai daerah yang baru.
Pada periode ini pula umat Islam mengalami cobaan dengan berbagai fitnah dan perpecahan. Semakin lama, kesatuan umat semakin goyah. Melihat kenyataan yang seperti ini, maka muncullah berbagai cara pandang didalam umat yang kemudian berpecah menjadi beberapa golongan.
( Semoga Allah merahmati para sahabat, memuliakan mereka atas jasa-jasanya menolong agama ini. Ampunilah segala kesalahan kami dan umat yang terdahulu. Sesungguhnya kami hanyalah manusia yang berusaha untuk menggapai apa yang Engkau ridhai, maka ampunilah kami ya Allah jika kami tersalah.. )

Sejak saat itu berkembanglah aliran-aliran pemahaman yang beragam didalam umat Islam. Semua berusaha untuk meraih apa yang diyakini sebagai kebenaran. Sungguh hal ini mulia niat dan tujuannya. Namun amat disayangkan perbedaan-perbedaan dalam hal yang masih mengundang kerancuan justru menjadi besar pada saat itu. Semuanya merasa benar dan dengan mudah mengkafirkan yang lain.

Jadi jika saja kita umat Islam mau berusaha lebih arif dalam memandang arti dan hakikat dari hadirnya perbedaan pandangan dalam agama mulia ini, maka mengertilah bahwa yang menyebabkan perbedaan-perbedaan ini adalah kita ; Manusia. Allah swt menurunkan syariat Islam melalui Rasulullah saw sebagai Islam yang satu. Tidak ada lebih dari satu Islam. Lalu kitalah manusia yang dengan segala keterbatasan dalam memahami kebenaran yang satu ini, menjadikan banyak bentuk pandangan. Lalu lahirlah perbedaan-perbedaan yang ada sampai sekarang.

Manusia Islam, sebagai makhluk yang diberi akal dan budi sudah pasti akan tiba pada pengembaraan bathiniyah yang berusaha menemukan pencerahan pada kehausan akan kebenaran yang Allah ciptakan. Petunjuk utamanya adalah Al Qur'an, wahyu suci yang berasal dari Allah swt langsung bagi kita umat Muhammad saw. Berisikan ayat-ayat penuh hikmah yang sempurna dan Allah swt sendiri yang menjamin kebenarannya. Rasulullah saw sebagai penyampai wahyu, tentu saja lebih mengetahui tujuan dan maksud-maksud Al Qur'an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Sehingga petunjuk Rasulullah saw bagi umat Islam adalah pendamping bagi Al Qur'an. Dari kedua sumber inilah sejak setelah Rasulullah saw wafat, para sahabat lalu para cendikiawan umat mencoba memaparkan, mengkaji dan menganalisa secara komprehensif sumber-sumber agama ini dalam rangka memperjelas tujuan-tujuan dan tata cara dalam beribadah kepada Allah secara Islam.

Seperti yang sudah sepantasnya terjadi, perbedaan pandangan muncul. Sepuluh orang manusia dapat memberikan 10 macam bentuk pandangan. Walaupun setelah dilakukan penelitian, sebagian pandangan dapat dipatahkan oleh pandangan yang lebih kuat. Namun permasalahan timbul ketika dua atau lebih pendapat yang sama kuat tampil berhadap-hadapan. Maka golongan yang mengambil pandangan yang pertama tetap pada pilihannya, dan yang lain juga tetap pada golongannya masing-masing. Terus berlanjut, secara turun temurun. Bahkan dalam perkembangannya, dari suatu golongan kemudian berpecah lagi menjadi beberapa golongan disebabkan adanya perbedaan pandangan pada hal yang lain. Dan berlanjut sampai saat ini, itulah yang kita saksikan sekarang.

Saya menutup tulisan kali ini dengan mengatakan, Islam yang Allah swt turunkan hanyalah satu. Rasulullah saw juga hanya mengajarkan satu Islam. Jadi selebihnya, ulah kita -manusia- yang mengelompokkan dan mengkotak-kotakkan agama ini. Bukanlah sebuah kenyataan yang dapat dihindari, namun juga bukanlah sebuah kenyataan yang patut membawa umat kedalam perpecahan. Agak terlampau naif jika kita menafikkan adanya perbedaan, namun tidaklah muluk untuk berharap bahwa kita mampu untuk bersikap arif dan tidak merasa benar sendiri. Ketika Rasulullah saw menghembuskan nafas terakhirnya, maka kebenaran yang 'Haq' juga ikut terputus. Al Qur'an dan Hadits lah warisan beliau saw bagi kita umat penerusnya dalam memegang fondasi agama ini. Hanya Allah swt dan RasulNya yang 'Haq', kita manusia yang penuh dengan keterbatasan hanya mampu mengutarakan pendapat. Dan pendapat bisa benar, juga mungkin salah. Dalam kebodohan dan keterbatasan saya sebagai manusia yang dhaif, tersusun sebuah untaian kata dalam benak saya; "Ketika kita merasa paling benar, maka saat itu juga dapat dipastikan bahwa kitalah yang pasti salah".

Semoga Allah swt memaafkan kesalahan saya, dan anada yang membaca tulisan ini memaafkan kebodohan saya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar